About Us

Mewujudkan Indonesia Bebas Buta Bahasa AlQur’an Bersama IMQ Dengan Metode GRANADA

Tentang Yayasan Indonesia Menerjemah Al Qur’an

Berawal dari kesamaan azzam & tekad yang kuat untuk cita-cita besar memberantas buta bahasa al Qur’an dengan membumikan pemahaman tentang al Qur’an sebagai satu-satunya kitab suci yang berisi sumber kebahagiaan dunia & akhirat maka segelintir orang pun berkumpul dan menciptakan asa untuk mengemban amanah tersebut. Wacana dan gagasan yang pada awalnya hanya sebuah ide yang menempel di pikiran orang biasa, kemudian terakumulasi menjadi suatu keinginan dan hasrat yang menggebu untuk bisa merealisasikannya. Maka pada awal tahun 2013, terwujudlah asa untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Kami yang berkumpul pada saat itu pun belum mengenal dengan baik satu sama lain.

Namun karena dilandasi dengan kekuatan ukhuwah dan kesadaran serta kepedulian akan hal yang sama maka segala sesuatunya pun dapat berjalan dengan usaha yang maksimal. Dilatar belakangi oleh background yang berbeda, tidak menyurutkan semangat tim yang kemudian dinamakan Indonesia Menerjemah al Qur’an untuk bisa mengembangkan sayapnya dan mewujudkan segala harapan dan citacitanya. Namun kami sadar, kami tidak dapat bergerak sendiri, oleh karenanya bantuan dan curahan kontribusi dari
banyak pihak pun kami butuhkan demi sempurnanya ikhtiar untuk mengemban amanah yang mulia ini

 Indonesia adalah negeri dengan ummat
 Islam terbesar di dunia, adalah bukti bahwa
 Islam sebagai agama yang mendapatkan
 hati di negeri ini, negeri yang kaya raya
 akan berbagai sumber daya alam dan
 manusianya. Tetapi sangat disayangkan,
 ummat Islam yang jumlahnya mayoritas di
 negeri ini dalam keadaan rata-rata
 terbelakang secara agama, karena
 mayoritas mereka tidak dapat membaca 
 AlQur’an,  apalagi bisa menerjemahnya dan
 mengerti tafsirnya. 
 Kecintaan terhadap dunia ditengarai
 menjadi salah satu penyebab jauhnya
 ummat Islam dari Al-Qur’an. Semua
 aktivitas diarahkan pada segala hal yang
 berhubungan dengan kesenangan dunia,
 sementara Al-Qur’an hanya mendapatkan
 waktu sangat sedikit, bahkan dibaca hanya
 agar mendapat pahala. Kebanyakan
 mereka lupa bahwa Al-Qur’an adalah
 sumber ilmu, hidayah, kebangkitan,
 kebahagiaan, ketenangan dan
 kesejahteraan fiddunya wal akhirah. 
 Pikiran yang berkembang di masyarakat
 bahwa bahasa Al-Qur’an sulit dipelajari,
 telah mempengaruhi sikap muslim
 Indonesia secara turun-temurun, yang
 kemudian menjauhi Al-Qur’an tanpa
 disadari. Akhirnya mereka tidak mengerti
 Al-Qur’an dan beragama hanya dengan
 ikut-ikutan. Padahal Allah melarang hal
 tersebut, sebagaimana firman Allah SWT
 dalam Surat Al-Israa: 36
 Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti
 apa yang kamu tidak mempunyai
 pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya
 pendengaran, penglihatan dan hati,
 semuanya itu akan diminta pertanggungan
 jawabnya.
 Keterbelakangan pemahaman keagamaan
 mengakibatkan keterbelakangan cara
 berfikir, bertindak dan berakhlak , baik di
 lingkungan rumah maupun dilingkungan
 kerja. Yang pada ujungnya semakin
 menampakan keterpurukan Ummat Islam. 
 Sebagai ummat Islam tentu kita ingin
 bangkit dan kita tahu kuncinya adalah
 dengan menjunjung tinggi dan berpegang
 teguh kepada Al-Qur’an.
 Untuk itu diperlukan penyatuan langkah dan
 perjuangan untuk membangun paradigma
 baru bahwa Al-Qur’an itu mudah, dan 
 memang ia mudah untuk dipelajari,
 sebagaimana firman Allah dan bukti-bukti
 nyata saat ini.
 Kemudahan Al-Qur’an untuk dipelajari telah
 Allah nyatakan dalam Al-Qur’an Surat 
 AlQomar diulang empat kali di ayat 17, 22,
 32 dan 40 dengan redaksi yang sama,
 sebagai berikut : 
 Artinya : “Dan sesungguhnya telah Kami
 mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka
 adakah orang yang mengambil pelajaran?” 
 Bukti bahwa Al-Qur’an itu mudah dihafal
 dapat dilihat dari kenyataan sekarang ini
 karena Al-Qur’an merupakan kitab suci
 yang paling banyak dihafal oleh ummat
 manusia dibanding buku atau kitab suci
 manapun.
 Kemudahan dari sisi membacanya juga
 dapat dilihat dari banyaknya metodemetoda 
 singkat untuk dapat membaca AlQur’an.
 Dan dari segi terjemahannya, ternyata 
 AlQur’an dengan Metode Granada Sistem 4
 Langkah bisa diterjemahkan dengan cara
 menghitung huruf, dan hanya
 membutuhkan waktu belajar minimal 8
 jam saja. 
 Dan setelah itu peserta belajar Insya Allah 
 dapat menerjemah Al-Qur’an sendiri. 
 Metoda Granada telah diujicobakan kepada
 lebih lebih 13.000 orang dengan tingkat
 keberhasilan diatas 90%, fakta ini
 memberikan gambaran bahwa metoda ini
 praktis dan dapat dipelajari oleh siapapun
 dengan syarat yang bersangkutan sudah
 bisa membaca Al Quran.
 Menyadari akan sederhananya metoda
 Granada dalam menerjemah Al Quran,
 maka dicanangkan Indonesia
 Menerjemah Al Quran oleh Alumni
 Pelatihan Metoda Granada, bertujuan
 memassalkan kegiatan menerjemah ini ke
 seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
 Dengan harapan sepuluh persen muslim
 Indonesia dapat menerjemah Al Quran
 pada tahun 2030. Dalam konteks ini apabila seluruh
 Pimpinan & santri keluarganya didorong
 untuk memiliki kemampuan melekat dalam
 menerjemah Al Quran dan kemudian
 menyebarkannya kepada warga disekitar ia
 tinggal, maka raihan pewujudan sepuluh
 persen muslim Indonesia yang mampu
 menerjemah sesuai yang dicita-citakan
 oleh Indonesia Menerjemah Al Quran
 segera menjelma. 

Alhamdulillah, +13.000 orang telah bisa menerjemah AlQur’an dengan asbab Metode Granada Sisitem 4 Langkah

Yuuk ikuti program IMQ: Pelatihan menerjemah AlQur’an dengan metode Granada untuk segala usia dan kalangan. Dilengkapi kajian kitab-kitab hadits, Tadabbur AlQur’an, dll ( online & Offline)
Bergabunglah dengan Gerakan Indonesia Menerjemah AlQur’an

Mulai Chat
Salam, Ahlah wasahlan...silahkan Chat kami jika ada yang ingin ditanyakan terkait IMQ